
Rendahnya Literasi: Yang Salah Di Ekosistem Literasi Indonesia
Rendahnya Literasi Indonesia masih menghadapi tantangan. Dalam PISA 2022, hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca, sementara rata-rata negara OECD mencapai 74 persen. Hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih tinggi.
Data tersebut tidak berarti masyarakat Indonesia tidak membaca sama sekali. Perpustakaan Nasional mencatat Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional 2024 mencapai 73,52, meningkat dari 69,42 pada 2023.
Perbedaan berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa persoalan literasi tidak dapat di lihat hanya dari jumlah buku yang di baca atau seberapa sering seseorang mengunjungi perpustakaan. Literasi juga berkaitan dengan kualitas kemampuan memahami dan menggunakan informasi.
Masalah Rendahnya Literasi Ada Di Ekosistem
Masalah Rendahnya Literasi Ada Di Ekosistem. Jika literasi rendah, pertanyaan yang perlu di ajukan bukan hanya “mengapa masyarakat malas membaca?”. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah ekosistem yang tersedia sudah benar-benar mendukung masyarakat untuk membaca, memahami, dan mengolah informasi.
Sekolah merupakan salah satu bagian penting dalam ekosistem tersebut. Pembelajaran yang terlalu berorientasi pada hafalan dapat membuat membaca hanya di anggap sebagai kegiatan untuk menjawab soal. Anak mungkin mampu membaca teks, tetapi belum tentu terbiasa memahami gagasan utama, membandingkan informasi, menyusun argumen, atau mempertanyakan sumber.
Keluarga juga memiliki pengaruh besar. Anak yang tumbuh di lingkungan yang menyediakan buku dan melihat orang dewasa membaca memiliki kesempatan lebih besar untuk menganggap membaca sebagai kebiasaan sehari-hari. Sebaliknya, jika buku hanya muncul ketika ada tugas sekolah, membaca dapat di anggap sebagai kewajiban, bukan kebutuhan.
Perpustakaan merupakan bagian lain yang tidak kalah penting. Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi seharusnya menjadi ruang belajar sepanjang hayat. Perpusnas sendiri menggunakan berbagai unsur untuk melihat pembangunan literasi, termasuk pemerataan layanan, kecukupan koleksi dan tenaga perpustakaan, kunjungan masyarakat, serta keterlibatan masyarakat.
Artinya, membangun literasi tidak cukup hanya dengan membagikan buku atau membuat kampanye membaca. Infrastruktur, kualitas bahan bacaan, guru, pustakawan, keluarga, komunitas, dan kebijakan pemerintah semuanya saling berhubungan.
Pada 2026, Perpusnas juga menyoroti bahwa rata-rata IPLM kabupaten/kota masih berada di angka 10,37 berdasarkan kajian yang di gunakannya, dan menilai banyak program literasi belum sepenuhnya tercermin dalam kualitas literasi masyarakat.
Membangun Budaya Literasi Yang Sebenarnya
Membangun Budaya Literasi Yang Sebenarnya. Perbaikan literasi perlu di mulai dari perubahan cara pandang. Membaca seharusnya tidak hanya menjadi program seremonial yang ramai pada waktu tertentu. Budaya membaca perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Sekolah dapat memberikan ruang lebih besar bagi siswa untuk membaca berbagai jenis buku, berdiskusi, menulis pendapat, dan membandingkan sumber informasi. Guru juga perlu mendorong siswa untuk bertanya dan berpikir kritis, bukan sekadar mencari jawaban yang di anggap paling benar.
Keluarga dapat menciptakan kebiasaan sederhana seperti membaca bersama, menyediakan bahan bacaan sesuai minat anak, dan berdiskusi mengenai isi buku. Tidak semua bacaan harus berupa buku pelajaran. Cerita, biografi, pengetahuan populer, komik edukatif, dan bacaan digital juga dapat menjadi pintu masuk menuju kebiasaan membaca.
Perpustakaan dan komunitas literasi juga perlu bergerak lebih dekat kepada masyarakat. Kegiatan membaca dapat di lakukan di sekolah, desa, ruang publik, maupun lingkungan permukiman. Teknologi digital pun seharusnya di manfaatkan sebagai bagian dari ekosistem literasi, bukan selalu dianggap sebagai lawan buku dalam menghadapi Rendahnya Literas.